Iwan Fals Lirik
Iwan Fals – Ambulan Zig-Zag
Deru ambulan memasuki pelataran rumah sakit yang putih berkilau
Didalam ambulan tersebut tergolek sosok tubuh gemuk bergelimang perhiasan
Nyonya kaya pingsan mendengar kabar putranya kecelakaan
Dan paramedis berdatangan kerja cepat
Dan langsung membawa korban menuju ruang periksa
Tanpa basa-basi, ini mungkin sudah terbiasa
Tak lama berselang sopir helicak datang
Masuk membawa korban yang berkain sarung
Seluruh badannya melepuh
Akibat pangkalan bensinnya meledak
Suster cantik datang mau menanyakan
Dia menanyakan data si korban,
Dijawab dengan jerit kesakitan
Suster menyarankan bayar ongkos….pengobatan
Hai sungguh sayang korban tak bawa uang
Suster cantik ngotot lalu melotot dan berkata
Silakan bapak tunggu dimuka
Hai modar aku…..hai modar aku
Jerit si pasien merasa kesakitan
Suster cantik datang mau menanyakan
Dia menanyakan data si korban,
Dijawab dengan jerit kesakitan
Suster menyarankan bayar ongkos….pengobatan
Hai sungguh sayang korban tak bawa uang
Suster cantik ngotot lalu melotot dan berkata
Silakan bapak tunggu dimuka
Hai modar aku…..hai modar aku
Jerit si pasien merasa diremehkan
Iwan Fals – 1910 [ print lirik | beritahu teman ]
Apa kabar kereta yang terkapar di Senin pagi
Di gerbongmu ratusa orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata…air mata….
Belum usai….peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi cacat dalam sejarah
Air mata…air mata
Berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja
Atau cukup hanya ucapan bela sungkawa
Aku bosan….
Lalu terangkat semua beban di pundak
Semudah itukah luka-luka terobati
Nusantara…tangismu terdengar lagi
Nusantara….derita bial berhenti
Bilakah…bilakah…..
Sembilan belas Oktober…tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah
Air mata…air mata
Nusantara….langitmu saksi kelabu
Nusantara….terdengar lagi tangismu
Nusantara….kau simpan kisah kereta
Nusantara….kabarkan marah sang duka
Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab luka sudah tak lagi panjang
Saudaraku pergilah dengan tenang
Iwan Fals – 22 Januari
22 Januari kita berjanji
Coba saling mengerti apa didalam hati
22 Januari tidak sendiri
Aku berteman iblis yang baik hati
Jalan berdampingan
tak pernah ada tujuan
Membelah malam
mendung yang selalu datang
Ku dekap erat
Ku pandang senyummu
dengan sorot mata
yang keduanya buta
Lalu kubisikan sebaris kata-kata
Putus asa….sebentar lagi hujan
Iwan Fals – Ada Lagi Yang Mati [ print lirik | beritahu teman ]
Aku lihat orang yang mati
Diantara tumpukan sampah
Lehernya berdarah membeku
Bekas pisau lawannya tadi malam
Belakang pasar dekat terminal
Pagi itu orang berkerumun
Melihat mayat yang membusuk
Tutup hidung sesekali meludah
Aku lihat orang menangis
Disela gaduhnya suasana
Segera aku menghampiri
Dengan bimbang
Kubertanya padanya
Rupanya yang mati sang teman
Teman hidam hidup sepaham
Hanya kisah yang dilewati
Ia berdua ikat tali saudara
Sementara surya mulai tinggi
Panas terasa bakar kepala
Sisa darah orang yang mati
Disimpannya di dalam hati
Lalu dia seperti batu
Sampai…malam
Sampai semuanya pergi
Belakang pasar dekat terminal
Adalagi orang yang mati
Lehernya berdarah membeku
Bekas pisau lawannya tadi malam
Sementara surya mulai tinggi
Panas terasa bakar kepala
Dendam ada dimana-mana
Dijantungku di jantungmu
Dijantung hari-hari
Dendam ada dimana-mana
Iwan Fals – Aku Antarkan [ print lirik | beritahu teman ]
Aku antar kau
sore pukul lima
Laju roda dua
seperti malas tak beringas
Langit mulai gelap
sebentar lagi malam
Namun kau harus
kembali tinggalkan
kota ini
Saat lampu-lampu
mulai dinyalakan
Semakin erat lingkar
lenganmu di pinggangku
Jarak bertambah dekat
Dua kelok lagi
Stasiun bis antarkota
pasti terlihat
Tak terasa seminggu
sudah engkau di pelukku
Tak terasa seminggu
alangkah cepatnya waktu
Tak terasa seminggu
habis kulumat bibirmu
Tak terasa seminggu
tak bosan kau minta itu
Tiba ditujuan
mesin kumatikan
Jariku kau genggam
seakan enggan kau
lepaskan
Iwan Fals – Aku Bosan [ print lirik | beritahu teman ]
Papi ku belum pulang, mami ku belum pulang
Kakak ku belum pulang, katanya cari uang
Hanya ada pembantu, mengurusi hidup ku
Hanya ada televisi, menemani hari ku
Aku bosan, aku bosan, aku bosan
Bosan…bosan…bosan…bosan…
Aku bosan, aku bosan, aku bosan
Bosan…bosan…bosan…bosan…
Ketika papi pulang, mukanya sangat tegang
Ketika mami pulang, menyapa hallo sayang
Ketika kakak pulang, jalannya sudah goyang
Katanya cari uang, katanya cari uang
Aku bosan, aku bosan, aku bosan
Bosan…bosan…bosan…bosan…
Iwan Fals – Aku di Sini [ print lirik | beritahu teman ]
Mengantuk perempuan setengah baya
Di bak terbuka mobil sayuran
Jam tiga pagi itu tangannya terangkat
Saat sorot lampu mobilku menyilaukan matanya
Aku ingat ibuku, aku ingat istri dan anak perempuanku
Separo jalan menuju rumah saat lampu menyala merah
Di depan terminal bis kota yang masih sepi
Aku melihat seorang pelacur tertidur mungkin letih atau mabuk
Aku ingat ibuku, aku ingat istri dan anak perempuanku
Di bawah temaram sinar merkuri
Bocah telanjang dada bermail bola
Oh pagi yang gelap kau sudutkan aku
Suara kaset dalam mobil aku matikan
Jendela kubuka angin pagi dan nyanyian sekelompok anak muda mengusik ingatanku
Aku ingat mimpiku, aku ingat harapan yang semakin hari semakin panjang tak berujung
Perempuan setengah baya pelacur yang tertidur
Bocah-bocah bermain bola anak muda yang bernyanyi
Sebentar lagi ayam jantan kabarkan pagi
Hari-harimu menagih janji
Aku di sini ya.. aku di sini
Ingat ibuku, istri dan anak-anakku
Iwan Fals – Aku Sayang Kamu [ print lirik | beritahu teman ]
Susah…susah mudah kau kudekati
Kucari…engkau lari kudiam kau hampiri
Jinak burung dara justru itu kusuka
Bila engkau tertawa hilang semua duka
Gampang naik darah…omong tak mau kalah
Kalau datang senang…nona cukup ramah
Bila engkau bicara…setan logika
Sedikit keras kepala…ah dasar betina
Ku suka kamu…sungguh suka kamu
Kuperlu kamu…sungguh perlu kamu
Engkau aku sayang…sampai dalam tulang
Banyak orang bilang…aku mabuk kepayang
Aku cinta kamu
bukan cinta uangmu
Aku puja selalu setiap ada waktu
Ku suka kamu…sungguh suka kamu
Ku perlu kamu…sungguh perlu kamu
Iwan Fals – Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarmu [ print lirik | beritahu teman ]
Tabir gelap yang lalu hinggap
Lambat laun mulai terungkap
Labil tawamu tak pasti tangismu
Jelas membuat Aku sangat ingin mencari
Apa yang tersembunyi dibalik manis senyummu
Apa yang tersembunyi dibalik bening dua matamu
Dapat kutemui mengapa engkau tak pasti
Lalu aku coba untuk mengerti
Saat engkau tiba disimpang jalan
Lalu engkau bimbang untuk tentukan
Arah mana tempat tujuan
Jalan gelap yang kau pilih
Penuh lubang dan mendaki
Jalan gelap yang kau pilih
Penuh lubang dan mendaki
Iwan Fals – Bangunlah Putra Putri Pertiwi [ print lirik | beritahu teman ]
Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kalau mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramanmu
Angin genit menghembus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh kharisma
Pulau pulau yang berpencar
Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh…..
Berkibarlah benderaku
Jangan ragu dan jangan malu
Bahwa sesungguhnya kita mampu
Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra putri pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti
Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
dan coba dengarkan
Pancasila itu bukan rumus kode buntut
Yang hanya berisikan harapan
Yang hanya berisikan khayalan
Iwan Fals – Belalang Tua [ print lirik | beritahu teman ]
Belalang tua diujung daun warnanya kuning kecoklat-coklatan
Badannya bergoyang ditiup angin
Mulutnya masih saja mengunyah tak kenyang-kenyang
Sudut mata kananku tak sengaja melihat belalang tua yang rakus
Sambil menghisap dalam rokokku
Kutulis syair tentang hati yang khawatir
Sebab menyaksikan akhir dari kerakusan
Belalang tua yang tak kenyang-kenyang
Seperti sadar kuperhatikan, ia berhenti mengunyah
Kepalanya mendongak keatas
Matanya melotot melihatku tak senang kakinya mencengkeram daun
Empat di depan dua di belakang bergerigi tajam
Sungutnya masih gagah menusuk langit berfungsi sebagai radar
Belalang tua masih saja melihat marah ke arahku
Aku menjadi grogi dibuatnya aku tak tahu apa yang dipikirkan
Tiba-tiba angin berhenti mendesir daunpun berhenti bergoyang
Walau hampir habis daun tak jadi patah
Belalang yang serakah berhenti mengunyah
Kisah belalang tua diujung daun yang hampir jatuh tetapi tak jatuh
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang kamu serakah
Oo .. oo .. oo .. oo belalang tua diujung daun
Dengan tenang meninggalkan harta karun
Warnanya hijau kehitam-hitaman
Berserat berlendir bulat lonjong sebesar biji kapas
Angin yang berhenti mendesir
Digantikan hujan rintik-rintik
Aku yang menulis syair
Tentang hati yang khawatir
Tak tahu kapan kisah ini akan berakhir
Iwan Fals – Belum Ada Judul [ print lirik | beritahu teman ]
C Am
Pernah kita sama sama susah
F G
Terperangkap didingin malam
C Am
Terjerumus dalam lubang jalanan
F G
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Am F G
Terjerat mimpi yang indah lelap
C Am
Pernah kita sama-sama rasakan
F G
Panasnya mentari hanguskan hati
C Am
Sampai saat kita nyaris tak percaya
F G
Bahwa roda nasib memang berputar
Am F G
Sahabat masing ingatkah kau
Reff:
Am Em
Sementara hari terus berganti
Am Em G
Engkau pergi dengan dendam membara di hati
C Am
Cukup lama aku jalan sendiri
F G
Tanpa teman yang sanggup mengerti
C Am
Hingga saat kita jumpa hari ini
F G
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Am F G
Kau tampar bangkitkan aku sobat
Iwan Fals – Besar dan Kecil [ print lirik | beritahu teman ]
Kau seperti bus kota atau truk gandengan
Mentang-mentang paling besar klakson sembarangan
Aku seperti bemo atau sandal japit
Tubuhku kecil mungil biasa terjepit
Pada siapa ku mengadu
Pada siapa ku bertanya
Kau seperti buaya atau dinosaurus
Mentang-mentang menakutkan makan sembarangan
Aku seperti cicak atau kadal buntung
Tubuhku kecil mrengil sulit dapat untung
Pada siapa ku mengadu
Pada siapa ku bertanya
Mengapa besar selalu menang
Bebas berbuat sewenang-wenang
Mengapa kecil selalu tersingkir
Harus mengalah dan menyingkir
Apa bedanya besar dan kecil
Semua itu hanya sebutan
Ya.. walau di dalam kehidupan
Kenyataannya harus ada besar dan kecil
Iwan Fals – Bidadari Senja Kala [ print lirik | beritahu teman ]
Wajah langit senja hari
Ada kelelawar melayang
Laut yang bergolak didepanku … yaa … haa
Wajah itu datang lagi
Mendatangiku memanggilku
Wajah yang berduka
Aku memelukmu mencium keningmu
Tatap matamu membara
Membakar hidupku
Suaramu bergairah
Menenangkanku
Membara … membara
Pandanganku membara
Tubuhmu yang hangat
Menghangatkan tubuhku
Lagu ini untukmu
Mimpi ini untukmu
Duka datang dan pergi
Datangnya silih berganti
Oh … oh … oh …
Sering aku tak mampu bicara
Terdiam s’perti patung bernyawa
Sering aku tak mampu menjawab
Aku tak tahu harus bagaimana
Bidadari senja kala
Menari untukku … untukku
Masih ada cahaya di wajahmu … di wajahmu
Nyanyian di senja hari membuatku rindu
Jangan berhenti memandang jangan berpaling
Jangan berhenti mencintai jangan berhenti
Aku tahu apa artinya senyum di bibirmu
Iwan Fals – Buku Ini Aku Pinjam [ print lirik | beritahu teman ]
C D Am Em
Biar tau… biar rasa…
C D G
Cinta ini milik kita
Int: C G Am D Em
C G Am
Di kantin depan kelasku
D G
Disana kenal dirimu
C G Am
Yang kini tersimpan di hati
D C Em
Jalani kisah sembunyi
C G Am
Di halte itu ku tunggu
D G
Senyum manismu kekasih
C G Am
Usai dentang bel sekolah
D G
Kita nikmati yang ada
Em Bm
Seperti hari yang lain
Am D G
Kau senyum tersipu malu
Em Bm
Ketika ku sapa engkau
C G Am C G Am D G
Genggamlah jari genggamlah hati ini
C G Am
Memang usia kita muda
D G
Namun cinta soal hati
C G Am
Biar mereka bicara
D G
Telinga kita terkunci
Reff: Em Bm Am Em
Biar tau… biar rasa…
C D G
Maka tersenyumlah kasih
Em Bm Am Em
Tetap langkah… jangan hentikan
C D G
Cinta ini milik kita
Int: Em Bm C Em C D G
C G Am
Buku ini aku pinjam
D G
Kan ku tulis sajak indah
C G Am
Hanya untukmu seorang
D G
Tentang mimpi-mimpi malam
Kembali ke: Reff (2x)
Int: C G Am D Em
C D Em
Cinta ini milik kita…
Coda: Em
Iwan Fals – Bung Hatta [ print lirik | beritahu teman ]
Intro : A# C F F/E Dm Gm C F
F Am Dm C
Tuhan terlalu cepat semua
A# Am Gm
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
A# C F
Proklamator tercinta
F Am Dm C
Jujur lugu dan bijaksana
A# Am Gm
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
A# C F
Rakyat Indonesia…
Reff :
Am Dm A# F
Hujan air mata dari pelosok negeri
Gm A# C F
Saat melepas engkau pergi…
Am Dm A# F
Berjuta kepala tertunduk haru
Gm A#
Terlintas nama seorang sahabat
Dm Am Dm
Yang tak lepas dari namamu…
A# F A# F
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
A# C Dm A# F
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Gm A# F
Bernisan bangga, berkapal doa
C A# C
Dari kami yang merindukan orang
A# C F
Sepertimu…
Int : F F/E Dm Am A# F G C
F F/E Dm Am A# F Gm C F
Kembali ke Reff.
Iwan Fals – Columbia [ print lirik | beritahu teman ]
langit nampak murung seperti gelisah
angin bawa kabar tentang duka, di sana….
lolong anjing malam bawa pertanda
alam bawa kisah unggas resah
beritakan.. tangis….
saat gelombang lahar
hanyutkan ribuan manusia
tanpa mau mengerti datang tepati janji
waktu seorang ibu
belai mesra anaknya
gemuruhnya petaka singkirkan jeritan yang ada
batu-batu telanjang
menari di nurani
hancurkan rumah-rumah, hancurkan kedamaian
Colombia…….
Colombia…….
sementara kita di sini
tanpa beban bernyanyi
sedangkan mereka gundah
di sela ganasnya wabah
sementara kita di sini
asyik cumbui mimpi
sedangkan mereka di sana
rindukan riuhnya pesta
narasi:
ada sekuntum bunga mawah
bercengkrama dengan lahar
seorang bayi mungil
begitu manis menyambut mati
Iwan Fals – Coretan Dinding [ print lirik | beritahu teman ]
Coretan dinding membuat resah
Resah hati pencoret
Mungkin ingin tampil
Tapi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan dinding
Adalah pemberontakan kucing hitam
Yang terpojok ditiap tempat sampah, ditiap kota
Cakarnya siap dengan kuku kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh coretan dinding kota
Coretan dinding terpojok di tempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama sama resah
Iwan Fals – Dalbo [ print lirik | beritahu teman ]
Sejak dilahirkan aku tak tahu siapa orang tua ku
Aku berpindah dari satu kasih sayang
ke satu kasih sayang yang lain
Aku hisap air susu dari tete’ banyak ibu
Merpati terbang melintasi,
membawa ku pergi ke masa lalu
Ohhooooo………ohhooooo………ohhoooooo…….
Aku tak pernah bertanya siapa orang tua ku
Walau memang merasakan ada sesuatu yang hilang,
sesuatu yang hilang
Merpati terbang melintasi,
membawa ku pergi ke masa lalu
Aku bukan anak haram, aku Dalbo anak alam !
Iwan Fals – Di Mata Air Tidak Ada Air Mata [ print lirik | beritahu teman ]
Memetik gitar dan bernyanyi
Pada waktu tak bertepi
Di atas langit di bawah tanah
Di hembus angin terseret arus
Untuk saudara tercinta
Untuk Jiwa yang terluka
Tengah lagu suaraku hilang
Sebab hari semakin bising
Hanya bunyi peluru di udara
Gantikan denting gitarku
Mengoyak paksa nurani
Jauhkan jarak pandangku
Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta
Walau aku tahu tak terdengar
Jariku menari tetap takkan berhenti
Sampai wajah tak murung lagi
Amarah sempat dalam dada
Namun akalku menerkam
Kubernyanyi di matahari
Kupetik gitar di rembulan
Di balik bening mata air
Tak pernah ada air mata
Iwan Fals – Doa Pengobral Dosa [ print lirik | beritahu teman ]
Intro: G Em G Em
D C D G
G D
Di sudut dekat gerbong yang tak terpakai
Em D C G
Perempuan ber make-up tebal dengan rokok di tangan
D C G
Menunggu tamunya datang
G D
Terpisah dari ramai
Em D C G
Berteman nyamuk nakal dan segumpal harapan
D C D G
Kapankah datang tuan berkantong tebal
Reff: Em D
Habis berbatang-batang tuan belum datang
C Em D
Dalam hati resah menjerit bimbang
C G C Em
Apakah esok hari anak-anakku dapat makan
D C D G
Oh Tuhan beri setetes rezeki
G Bm Em
Dalam hati yang bimbang berdoa
G Bm Em
Beri terang jalan anak hamba
C D G
Kabulkanlah Tuhan
Int: G D Em D C G D C G
G D
Terpisah dari ramai
Em D C G
Berteman nyamuk nakal dan segumpal harapan
D C D G
Kapankah datang tuan berkantong tebal
Kembali ke: Reff
G Bm Em
Dalam hati yang bimbang berdoa
G Bm Em
Beri terang jalan anak hamba
C D G
Kabulkanlah Tuhan
C D G
Kabulkanlah Tuhan
Coda: G Em G Em
Iwan Fals – Dunia Binatang [ print lirik | beritahu teman ]
Ya..ya..ya..ya..jawablah, jangan diam saja
Kenapa orang susah, makin susah saja
Ya..ya..ya..ya..mau makan, tak punya uang
Ya..ya..ya..ya..mau tidur, tak punya kasur
Ya..ya..ya..ya..diamlah, jangan ngoceh saja
Mereka sudah bosan, tutup mulut saja
Ada macan mencakar macan, ular menggigit ular
Ada gajah membunuh gajah, kita yang terinjak…..ya..ha..ha..!
Mata liar dimana-mana, mencari mangsa yang lemah
Tangan-tangan yang penuh darah, menindas sambil tertawa
Ada maling teriak maling, ada musang berbulu domba
Monopoli menjadi-jadi, tangan besi merajalela
Ya..ya..ya..ya..jawablah, jangan diam saja
Mengapa orang susah, makin susah saja
Ya..ya..ya..ya..diamlah, jangan ngoceh saja
Mereka sudah bosan, tutup mulut saja
Iwan Fals – Engkau Tetap Sahabatku [ print lirik | beritahu teman ]
Dia adalah sahabatku bahkan lebih
Dia adalah yang diburu…datang padaku
Sekedar lepas lelah dan sembunyi
Untuk berlari lagi
Dia adalah yang terbuang…mengetuk pintuku
Penuh luka dipunggungnya…merah hitam
Dia menjadi terbuang….setelah harapannya….
dibuang…..
Bapaknya pegawai kecil….sandal jepit
yang kini di dalam penjara…sedang bela anaknya
Untuk darah daging yang tercinta
Selesaikan sekolah
Sahabatku…coba mencari kerja
Namun yang didapat cemooh
Harga dirinya berontak
Lalu dia tetapkan hati
Hancurkan sang pembuang
Air putih aku hidangkan…aku dipersimpangan
Seribu bahkan lebih..sejuta lebih
Pagi buta dia berangkat…diam-diam
Masih sempat selimuti aku….yang tertidur
Aku terharu…doaku untukmu
Sebutir peluru yang tinggal dibawah bantalnya
Bertali jadikan kalung lalu kukenakan
yang terus berlalu
Selamat jalan kawan…
Selamat menari air mata
Hei…sahabat yang terbuang
Engkau sahabatku….tetap sahabatku
Iwan Fals – Ethiopia [ print lirik | beritahu teman ]
Dengar rintihan berjuta kepala
Waktu lapar menggila
Hamparan manusia tunggu mati
Nyawa tak ada arti
Kering kerontang meradang
Entah sampai kapan
Datang tikam nurani
Selaksa do’a penjuru dunia
Mengapa tak robah bencana
Menjerit Afrika mengerang Ethiopia
Ethiopia Ethiopia Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia Ethiopia Ethiopia
Derap langkah sang penggali kubur
Angkat yang mati dengan kelingking
Parade murka bocah petaka
Tak akan lenyap kian menggema
Nafas orang-orang disana
Merobek telinga telanjangi kita
Lalat-lalat berdansa cha cha cha
Berebut makan dengan mereka
Tangis bayi ditetek ibunya
keringkan airmata dunia
Obrolan kita dimeja makan
Tentang mereka yang kelaparan
Lihat sekarat dilayar Tv
Antar kita pergi ke alam mimpi
Ethiopia Ethiopia Ethiopia Ethiopia
Ethiopia Ethiopia Ethiopia Ethiopia
Disana terlihat ribuan burung nazar
terbang disisi iga-iga yang keluar
Jutaan orang memaki takdirnya
Jutaan orang mengutuk nasibnya
Jutaan marah….jutaan marah
Tak bisa berbuat apa-apa
Setiap detik selalu saja ada yang merintih
Setiap menit selalu saja ada yang mengerang
Aku dengar jeritan dari sisni…aku dengar
Aku dengar tangismu dari sini…aku dengar
Namun aku hanya bisa mendengar
Aku hanya bisa sedih
Hitam kulitmu sehitam nasibmu kawan
Waktu kita asik makan waktu kita asik minum
mereka haus……….mereka lapar
Mereka lapar…mereka lapar
Iwan Fals – Frustasi
Generasiku banyak yang frustasi
Broken home istilah bule bule luar negeri
Mereka muak lihat papi mami bertengkar
Mereka jijik lihat papi mami slalu keluar
Ada urusan yang tak masuk di akal
Mami sibuk cari bujangan
Papi sibuk cari perawan
Timbang kesal lebih baik aku berhayal
Jadi orang besar
Seperti Hitler yang tenar
Jadi orang tenar
Persis Carter juragan kacang
Mata cekung badan persis capung
Tingkah sedikit bingung
Pikiran mirip mirip orang linglung
rambut selalu kusut
disuruh selalu manggut-manggut
duduk di sudut hei kasihan itu tubuh
Tinggal tulang sama kentut
Hei Mr. gelek loe tega
mata gua kok nggak bisa melek
hei Mr. gelek
duit gopek gua kira cepek
hei Mr. gelek perut laper ada tape
Pas gua sikat asem-asem nggak tahunya telek
Iwan Fals – Hatta
Intro : A# C F F/E Dm Gm C F
F Am Dm C
Tuhan terlalu cepat semua
A# Am Gm
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
A# C F
Proklamator tercinta…
F Am Dm C
Jujur lugu dan bijaksana
A# Am Gm
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
A# C F
Rakyat Indonesia…
Reff :
Am Dm A# F
Hujan air mata dari pelosok negeri
Gm A# C F
Saat melepas engkau pergi…
Am Dm A# F
Berjuta kepala tertunduk haru
Gm A#
Terlintas nama seorang sahabat
Dm Am Dm
Yang tak lepas dari namamu…
A# F A# F
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
A# C Dm A# F
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Gm A# F
Bernisan bangga, berkapal doa
C A# C
Dari kami yang merindukan orang
A# C F
Sepertimu…
Int : F F/E Dm Am A# F G C
F F/E Dm Am A# F Gm C F
Kembali ke Reff.
Iwan Fals – Hua..Ha..Ha…Ha…
Hua..ha..ha..ha……… Hua..ha..ha..ha…..
Hua..ha..ha..ha..ha..ha……. Hua..ha..ha……
Hua..ha..ha..ha……… Hua..ha..ha..ha…..
Hua..ha..ha..ha..ha..ha…….
Bukalah mulut kamu, lantangkan saja suara mu
Bebaskan jiwa kamu, tidak apa-apa dianggap gila
Daripada tak bisa tertawa itu sehat, menipu itu jahat
Hua..ha..ha..ha……… Hua..ha..ha..ha…..
Hua..ha..ha..ha..ha..ha……. Hua..ha..ha……
Iwan Fals – Hura-hura Huru-Hara
Apa jadinya jika mulut dilarang bicara
apa jadinya jika mata dilarang melihat
apa jadinya jika telinga dilarang mendengar
jadilah robot tanpa nyawa
yang hanya mengabdi pada perintah
Apa jadinya jika saran berubah menjadi ancaman
apa jadinya jika lintah darat makin menghisap rakyat
apa jadinya jika keserakahan makin semena-mena
jadilah kepincangan keadilan
yang hanya melahirkan dendam
Hura-hura huru-hara
lingakaran setan semakin seram bentuknya
Hura-hura huru-hara
gelombang mara bahaya makin terasa
Apa jadinya jika petani tak lagi punya sawah
apa jadinya jika cukong-cukong menguasai tanah
apa jadinya jika hukum sekedar bendera-bendera pajangan
jadilah penghisapan sesama manusia
yang hanya melahirkan drakula-darkula
Hura-hura huru-hara
lingakaran setan semakin seram bentuknya
Hura-hura huru-hara
gelombang mara bahaya makin terasa
Iwan Fals – Ibu
(*)
Am FM7 Am
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
FM7 Am/D E
Lewati rintang untuk aku anakmu
Am FM7 Am
Ibuku sayang masih terus berjalan
FM7 Am/D E Am
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah
Am/B C Am/D FM7 Am
Seperti udara… kasih yang engkau berikan
C Am/D FM7 Am
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Int : Am Am/C Am/B
Am FM7 Am
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
FM7 Am/D E Am
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Am/B C Am/D FM7 Am
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
C Am/D FM7 Am
Dengan apa membalas…ibu…ibu….
Int : Am FM7 Am7 Am/D
Am C C/B
kembali ke (*)
Iwan Fals – Ikrar
Intro: DM7 C#m7 DM7 C#M7 Bm7 E A
DM7 C#m7
Meniti hari meniti waktu
DM7 C#m7
Membelah langit belah samudera
DM7 C#m7
Ikhlaslah sayang ku kirim kembang
Bm7 E A
Tunggu aku tunggu aku
DM7 C#m7
Rinduku dalam semakin dalam
DM7 C#m7
Perjalanan pasti kan sampai
DM7 C#m7
Penantianmu smangat hidupku
Bm7 E A
Kau cintaku kau bintangku
DM7 C#m7
Doakanlah sayang
Bbdim
Harapkanlah manis
DM7 E A
Suamimu segera kembali
DM7 C#m7
Doakanlah sayang
Bbdim
Harapkanlah manis
DM7 E A
Suamimu suami yang baik
DM7 C#m7
Kutitipkan semua yang ku tinggalkan
DM7 C#m7
Kau jagalah semua yang mesti kau jaga
DM7 C#m7
Permataku aku percaya padamu
DM7 C#m7
Permataku aku percaya padamu
Iwan Fals – Imitasi
Join-join dong ayo kita kumpul duit
Dana siap kita berangkat
Pakaian rapi celana potongan napi
Taplak meja dirombak jadi dasi
Pergi kita cari sasaran
Malam ingin melepas keresahan
Lihat Popi pakai rok mini
Lihat Nancy pakai bikini
Tapi sayang sudah dibooking papi-papi
Reff.
Otakku tegang begitupun kawan sejalan
Cepat putar haluan tancap gas
Kita ngacir pergi ke taman lawang
Paginya Toto malamnya Titi
Paginya Sunarto malam Sunarti
Paginya Ahmad malamnya Asye
Paginya Ismet malam Isye
Aku melongo persis kebo bego
Jidat mengkerut persis jidat Darto
Lihat itu potongan abisnya mirip perempuan
Iwan Fals – Ini Si Trendi
Ini si trendy menari memuja diri
Ini si trendy bergaya pasang aksi
Hidupnya penuh basa-basi
Ingin di anggap paling sexy
Tiap hari maunya dipuji
Ya-ya-ya … ya-ya-ya …
Hidup diperbudak gengsi
Ini si trendy menari gaya babi ngepet
Ini si trendy menyanyi karaoke
Suaranya mirip bebek
Ya-ya-ya … ya-ya-ya …
Matanya merem melek
Ya-ya-ya … ya-ya-ya …
Yang penting bisa di potret
Ngetrend … trendy … trendy … trendy …
Enggan ikut-ikut gengsi
Kuno … kuno … kuno … kuno …
Enggan ikut-ikut gengsi
Kuno … kuno … kuno … kuno …
Ini si trendy masih nari dan menyanyi
Ini si trendy genitnya semakin jadi
Orang-orang dianggap tuli
Modernisasi salah kaprah
Lantas menjadi latah
Ngetrend … trendy … trendy … trendy …
Iwan Fals – Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi
raung buldozer gemuruh pohon tumbang
berpadu dengan jerit isi rimba raya
tawa kelakar badut-badut serakah
dengan HPH berbuat semaunya
lestarikan alam hanya celoteh belaka
lestarikan alam mengapa tidak dari dulu…
oh mengapa…..
oh…oh…ooooo……
jelas kami kecewa
menatap rimba yang dulu perkasa
kini tinggal cerita
pengantar lelap si buyung
bencana erosi selalu datang menghantui
tanah kering kerontang
banjir datang itu pasti
isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
lestarikan hutan hanya celoteh belaka
lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja
oh…oh…ooooo……
jelas kami kecewa
mendengar gergaji tak pernah berhenti
demi kantong pribadi
tak ingat rejeki generasi nanti
bencana erosi selalu datang menghantui
tanah kering kerontang
banjir datang itu pasti
isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
punah dengan sendirinya akibat rakus manusia
Iwan Fals – Jalan yang Panjang Berliku
Jalan panjang yang berliku
Jalan lusuh dan berbatu
Namun kuharus mampu menempuh
Bersama beban di batinku
Kudatang berlumur debu
Kupergi bersama bayu
Diantara gelisah
Kucoba untuk tetap kukuh
Tiadakan tempat kuberteduh
Dikala luka membiru
uh .. uh .. uh ..
Segenggam harapan dalam jiwa
Hilang punah tiada kesan ..
Dikegelapan ..
Iwan Fals – Karena Kau Bunda Kami
Kami berdiri disini mencoba menjaga hidup mu
Bukan hanya sekedar mencintai
Bukan sekedar melindungi, karena kau bunda kami
Kami minum air susu mu, dihidupi tanah mu
Dimandikan oleh air mu
Kami berdoa, karena kau bunda kami
Lihatlah fajar pagi telah menyingsing
Dengarkan doa kami, karena kau bunda kami
Biar keadilan sulit terpenuhi, biar kedamaian sulit terpenuhi (2x)
Kami berdiri menjaga diri mu, karena kau bunda kami
Iwan Fals – Kembang Pete
C Em
Ku berikan padamu
Am
Setangkai kembang pete
F G C
Tanda cinta abadi namun kere
C Em Am
Buang jauh-jauh impian mulukmu
F G C
Sebab kita tak boleh bikin uang palsu
C Em Am
Kalau diantara kita jatuh sakit
F G C
Lebih baik tak usah ke dokter
C Em Am
Sebab ongkos dokter disini
F G C
Terkait di awan tinggi
F G C Em Am
Cinta kita cinta jalanan
F G C
Yang tegak mabuk dipersimpangan
F G C Em Am
Cinta kita jalanan
F G C
Yang sombong menghadap keadaan
C Em F G C
Semoga hidup kita bahagia
C Em F G C
Semoga hidup kita sejahtera
C Em F G C
Semoga hidup kita bahagia
C Em F G C
Semoga hidup kita sejahtera
C Em Am
Kuberikan padamu sebuah batu akik
F G C
Tanda sayang bathin yang tercekik
C Em Am
Rawat baik-baik walau kita terjepit
F G C
Dari kesempatan yang semakin sempit
Iwan Fals – Kesaksian
aku mendengar suara
jerit makhluk terluka
luka, luka
hidupnya
luka
orang memanah rembulan
burung sirna sarangnya
sirna, sirna
hidup redup
alam semesta
luka
banyak orang
hilang nafkahnya
aku bernyanyi
menjadi saksi
banyak orang
dirampas haknya
aku bernyanyi
menjadi saksi
mereka
dihinakan
tanpa daya
ya, tanpa daya
terbiasa hidup
sangsi
orang-orang
harus dibangunkan
aku bernyanyi
menjadi saksi
kenyataan
harus dikabarkan
aku bernyanyi
menjadi saksi
lagu ini
jeritan jiwa
hidup bersama
harus dijaga
lagu ini
harapan sukma
hidup yang layak
harus dibela
Iwan Fals – Kota
Kota adalah rimba
belantara buas
Dari yang terbuas…..
Setiap jengkal lorong
dan pecik darah
Darah dari iri…
darah dari benci
Bahkan darah dari sesuatu
yang tak pasti….
Kota adalah rimba belantara
liar dari yang terliar….
Setiap detik lidah-lidah liar
rakus menjulur lapar…
Tangis bayi adalah lolong
srigala…di bawah bulan….
Lengking tinggi merobek
batu-batu tebing keras dan kejam
Bernafas diantara sikut
licik dan garang
Bergerak diantara ganasnya
selaksa karat…..
Kota adalah hutan belantara
akal
Kuat dan berakar….
menjurai….
Di depan mata…siap
menjerat…
di depan mata….
siap menjerat….
leher kita…..
Iwan Fals – Kwek…Kwek…Kwek…
Kawan apa kabar mu, kawan kemana kamu
Kawan apa kabar mu, kawan dimana kamu
Bingung-bingung dia bingung, kawan ku bingung
Pusing-pusing dia pusing, kawan ku pusing
Minggat-minggat dia minggat, kawan ku minggat
Ya..ya..ya..ya…….ya..ya..ya…….ya…ya..ya…
Pacar apa kabar mu, pacar kenapa kamu
Pacar apa kabar mu, pacar apa mau mu
Senyum-senyum tersenyum, pacar ku tersenyum
Manja-manja sangat manja, pacar ku manja
Kwek-kwek…kwek-kwek cerewet, pacar ku cerewet
Ya..ya..ya..ya…….ya..ya..ya…….ya…ya..ya…
Tuan apa kabar mu, tuan siapa kamu
Tuan apa kabar mu, tuan mana janji mu
Ta – ta – ta – ta perintah, senang merintah
Cat – cat – cat – cat memecat, senang memecat
Si – si – si – si korupsi, senang korupsi
Ya..ya..ya..ya…….ya..ya..ya…….ya…ya..ya…
Iwan Fals – Nak
Intro: C F C G C G Am
F C G C
C F C
Jauh jalan yang harus kau tempuh
G Am G C
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
C F C
Tajam kerikil setiap saat menunggu
G Am F G C
Engkau lewat dengan kaki tak bersepatu
Reff: Em F C
Duduk sini nak dekat pada bapak
G Am F G C
Jangan kau ganggu ibumu
Em F C
Turunlah lekas dari pangkuannya
G Am F G C
Engkau lelaki kelak sendiri
Int: C
C F C
Jauh jalan yang harus kau tempuh
G Am G C
Mungkin samar bahkan mungkin gelap
Int: G F G Dm G F
Em F Em F
Dm Bb F C
Kembali ke: Reff
Iwan Fals – Nyanyianmu
C Em
Kau petik gitar
F
Nyanyikan lagu
Am
perlahan
G
Usap hatiku…
C Em
Terucap janjiku
F
untukmu
C G
Tenggelamku di
C
tembangmu
C Em
Tulikanlah kedua
F
telingaku
Am
Butakanlah kedua bola
G
mataku
C Em
Agar tak kulihat dan
F
kudengar
C
Kedengkian yang
G C
mungkin benam
Am G F G
memang aku jatuh
Am G F G
Dalam cengkeramanmu
Am G F G
Sungguh aku minta
C
Teruskanlah kau
G
bernyanyi
F G C
Kau kudengar itu pasti
C
Teruskanlah kau
G
bernyanyi
F G
Dan jangan lagumu
C
terhenti
Iwan Fals – Panggilan Dari Gunung
Panggilan dari gunung
Turun ke lembah-lembah
Kenapa nadamu murung
Langkah kaki gelisah
Matamu separuh katup
Lihat kolam seperti danau
Kau bawa persoalan
Cerita duka melulu
Disini menunggu
Cerita yang lain
Berapa lama diam
Cermin katakan bangkit
Pohon-pohon terkurung
Kura-kura terbius
Iwan Fals – Puing
Puing berserakan di segenap penjuru
bekas pertempuran
bau amis darah di segenap penjuru
sesak nafasku
mayat-mayat bergeletakan
tak terkubur dengan layak
dan burung-burung bangkit menatap liar
dan burung-burung bangkai berdansa senang
di ujung sana banyak orang kelaparan
ujung lainnya, wabah busung menyerang
di sudut sana banyak orang kehilangan
sudut lainnya bayi bertanya bimbang:
“mama kapan papah pulang?”
“mama sebab apa perang?”
banyak jatuh korban
dari mereka yang tak mengerti apa-apa
suara tangis terdengar dari bekas reruntuhan
seorang ibu muda yang baru melahirkan
lama meratapi sesosok mayat tubuh suaminya
dan burung burung bangkai menatap liar
dan burung-burung bangkai berdansa senang
tinggi peradaban teknologi berkembang
senjata hebat terciptakan
sarana pembantaian semakin bisa diwujudkan
oh, mengerikan……….
berhentilah…
jangan salah gunakan
kehebatan ilmu pengetahuan untuk menghancurkan
dan burung burung bangkai menatap liar
dan burung-burung bangkai berdansa senang
Iwan Fals – Potret [ print lirik | beritahu teman ]
Melihat anak-anak kecil berlari-larian
Di perempatan jalan kota-kota besar
Mengejar hari yang belum dimengerti
Sambil bernyanyi riang menyambut resiko
Melihat anak-anak sekolah berkelahi
Di pusat keramaian kota-kota besar
Karena apa tak ada yang mengetahui
Sementara darah yang keluar bertambah banyak
Melihat anak-anak muda di ujung gang
Berkelompok tak ada yang dikerjakan
Selain mengeluh dan memanjakan diri
Hari esok bagaimana besok
Mendengar orang-orang pandai berdisusi
Tentang kesempatan yang semakin sempit
Tentang kemunafikkan yang kian membelit
Tetapi tetap saja tinggal omongan
Merasa birokrat bersilat lidah
S’perti tukang obat di jalanan
Mencoba meyakinkan rakyat
Bahwa di sini seperti di surga
Tak adakah jalan keluar?
Iwan Fals – Sarjana Muda
lntro : Dm Bb C Dm
Dm Am
Berjalan seorang pria muda
F C Dm
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Dm Am
Di sela bibir tampak mengering
F C Dm
Terselip s’batang rumput liar
Dm Am
Jelas menatap awan berarak
F C Dm
Wajah murung s’makin terlihat
Dm Am
Dengan langkah gontai tak terarah
F C Dm
Keringat bercampur debu jalanan
F C
Reff I : Engkau sarjana muda
Dbdim Dm
Resah mencari kerja
Bb F C
Mengandalkan ijasahmu
F C
Empat tahun lamanya
Dbdim Dm
Bergelut dengan buku
Bb F C
‘Tuk jaminan masa depan
Dm Am
Langkah kakimu terhenti
Dm Am Dm
Di depan halaman sebuah jawaban
lnt : Dm Bb C Dm
Dm Bb C F Bb A
Dm Am
Termenung lesu engkau melangkah
F C Dm
Dari pintu kantor yang di harapkan
Dm Am
Tergiang kata tiada lowongan
F C Dm
Untuk kerja yang di dambakan
Dm Am
Tak peduli berusaha lagi
F C Dm
Namun kata sama yang kau dapatkan
Dm Am
Jelas menatap awan berarak
F C Dm
Wajah murung s’makin terlihat
F C
Reff II : Engkau sarjana muda
Dbdim Dm
Resah mencari kerja
Bb F C
Tak berguna ijasahmu
F C Empat tahun lamanya
Dbdim Dm
Bergelut dengan buku
Bb F C
Sia-sia semuanya
Dm Am
Setengah putus asa dia berucap
Dm
“maaf ibu…”
Iwan Fals – Si Tua Sais Pedati
Bergerak perlahan dengan pasti
Di jalan datar yang berlumpur
Sesekali terdengar gletar cemeti diiringi teriakan lantang
Si tua sais pedati
Derak pedati sebentar berhenti
Nampak si tua sais pedati mulai membuka bungkusan nasi
Yang dibekali sang istri
Gerak pedati lalu jalan lagi
Singgah disetiap desa
Tanpa ragu-ragu tanpa malu-malu
Nafas segar terhembus
Dari sepasang lembu yang tak pernah merasakan
Sesak polusi
Dia tak pernah memerlukan
Dia tak pernah membutuhkan
Solar dan ganti olie
Bensin dan ganti busi
Apalagi charge aki
Dia tak pernah kebingungan
Dia tak pernah ketakutan
Apa kata orang tentang gawatnya krisis energi
Gerak pedati dan lenguh lembu
Seember rumbut dan gletar cemeti
Seakan suara azan yang di-cassete-kan
Sementara itu sang bilal pulas mendengkur
Iwan Fals – Siang Seberang Istana
Em D Em
seorang anak kecil bertubuh dekil
Bm C Em
tertidur berbantal sebelah lengan
D C Em
berselimut debu jalanan
Em D Em
rindang pohon jalan menunggu rela
Bm C Em
kawan setia sehabis bekerja
D C Em
siang di seberang sebuah istana
D C Em
siang di seberang istana sang raja
Reff I:
C D G F#/D Em
kotak semir mungil dan sama dekil
C D G F#/D Em
benteng rapuh dari lapar memanggil
C D G F#/D Em
gardu dan mata para penjaga
C D F Em
saksi nyata……. yang sudah terbiasa
Em D Em
tamu negara tampak terpesona
Bm C Em
mengelus dada gelengkan kepala
D C Em
saksikan perbedaaan yang ada
Reff II:
C D G F#/D Em
sombong melangkah istana yang megah
C D G F#/D Em
seakan meludah di atas tubuh yang resah
C D G F#/D Em
ribuan jerit di depan hidungmu
C D F Em
namun yang ku tau…. tak terasa terganggu
kembali ke: reff I & reff II
Em D Em
Gema azan ashar sentuh telinga
Bm C Em
Buyarkan mimpi si kecil siang tadi
D C Em
Dia berjalan malas melangkahkan kaki
D C
Di raihnya mimpi di genggam tak di letakkan…
Em
lagi…
Iwan Fals – Surat Buat Wakil Rakyat
untukmu yang duduk sambil diskusi
untukmu yang biasa bersafari
di sana, di gedung DPR
wakil rakyat kumpulan orang hebat
bukan kumpulan teman teman dekat
apalagi sanak famili
di hati dan lidahmu kami berharap
suara kami tolong dengar lalu sampaikan
jangan ragu jangan takut karang menghadang
bicaralah yang lantang jangan hanya diam
di kantong safarimu kami titipkan
masa depan kami dan negeri ini
dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
meski kami tak kenal siapa saudara
kami tak sudi para juara
juara diam, juara he’eh, juara ha ha ha……
wakil rakyat seharusnya merakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
wakil rakyat bukan paduan suara
hanya tahu nyanyian lagu “setuju……”
Iwan Fals – Timur Tengah I
Ada tanya dalam kepala
Waktu lihat muak yang hingar
Disetiap sudut
Ada mati dibalik tembok
Waktu timah panas mencabik
Hati nurani…………
Merah…Merah…Merah…Merah
Dilangit
Merah…Merah…Merah…Merah
Ditanah
Derap langkah bakar amarah
Kepal tangan hadirkan darah
Dibungkam diam….
Khabar angin didekat jantung
Bahwa hari sedang menangis
Tergores pedih hati
Merah…Merah…Merah…Merah
Dimata
Merah…Merah…Merah…Merah
Dilidah
Dengar…nyanyi anak kemarin
Tentang sedih tanah terkasih
Yang tak pernah habis
Doa…ibu sambil menangis
Antar….bocah agar tak sedih
Pergi ke pintu mati
Merah…dilangit
Merah…dimata
Merah…ditangan
Merah…dilidah
Iwan Fals – Timur Tengah II
Tuhan….tolong dengarkan
Nyanyian pinggir jalan
Malam di bawah bulan
Dalam waktu yang rawan
Marah di bawah tanah
Dilangit ada merah
Menuju satu arah…bakar….
bakar…..
Di sana ada bohong
Di sana ada mayat
Di sana ada suara…..bum….
bum….
Raut muka resah
Orang-orang susah
Ada banyak mata…buta….
Resah luka kaki
S’makin…menjadi…ada
banyak kuping…..tuli
Malam hampir malam
Debu jalan datang lagi
Malam hampir pagi
Usir mesin bunyi lagi
Malam hampir pagi
Kelicikan mulai lagi
Malam hampir pagi
Teriakku hilang lagi
Iwan Fals – Tince Sukarti Binti Mahmud
tince sukarti binti mahmud
kembang desa yang berwajah lembut
kuning langsat warna kulitnya maklum
ayah arab ibunda cina
tince sukarti binti mahmud
ikal mayang engkau punya rambut
para jejaka takkan lupa
kerling nakal karti memang menggoda
jangankan lelaki muda terpesona yang
tua jompopun gila
sejuta cinta antri dimeja berada
sukarti hanya tertawa
bibirmu hidungmu indah menyatu
tawamu suaramu terdengar merdu
tince sukarti hooby memang dia
bernyanyi
qasidah rock & roll
dangdut keroncong ia kuasai…
tince sukarti ingin menjadi
seorang penyanyi
primadona beken neng karti selalu
bermimpi
ibu bapaknya enggan memberi restu
walau sang anak merayu
tince sukarti dasar kepala batu
kemas barang dan berlalu
tince sukarti berlari mengejar mimpi
janji makelar penyanyi orbitkan sukarti
jani sukarti hati persetan harga diri
kembang desa layu tak lagi wangi
seperti dulu
Iwan Fals – Ujung Aspal Pondok Gede
di kamar ini aku dilahirkan
di bale bambu buah tangan bapakku
di rumah ini aku dibesarkan
dibelai mesra lentik jari ibuku
nama dusunku ujung aspal pondok gede
rimbun dan anggun
ramah senyum penghuni dusunku
kambing sembilan motor tiga
bapak punya
ladangnya luas habis sudah sebagai gantinya
sampai saat tanah moyangku
tersentuh sebuah rencana
demi serakahnya kota
terlihat murung wajah pribumi
terdengar langkah hewan bernyanyi
di depan masjid
samping rumah wakil pak lurah
tempat dulu kami bermain
mengisi cerahnya hari
namun sebentar lagi
angkuh tembok pabrik berdiri
satu persatu sahabat pergi
dan tak kan pernah kembali
Iwan Fals – Yayaya…Oh…Ya
Lagi sebuah kenyataan
Telah kutemui
Dan kini…kuhadapi
Di malam gelap ini
Kebencian….dalam hatiku
Yang akrab denganmu
akhirnya menipuku
Hingga lahirkan rindu
Yayaya….oh ya
Nafsuku….yang membunuh
dendamku
Gerakku…akalku
Ternyata banyak hal
yang tak selesai
Hanya…dengan amarah….
bagaikan senyummu yang
sanggup menahan
Gemuruh hatiku….
Kehangatan damai kasihmu
Terbukti t’lah mampu
Tundukkan…gangguan….
Diriku….selama-lamanya
Yayaya…..oh ya…..
Serutu…..kesadaran diriku
Cintaku….untukmu
Iwan Fals – Yogya
Intro: A D G D
A D G
Aku jalan sendiri
A D G D
Dijalan yang sering aku lewati dulu
A D G
Aku masih melihat
A D G D
Wajah-wajah yang aku kenal dahulu
D G D G
Oh di kota ini di kota ini
D G D G
Oh di kota ini di kota ini
A D G
Aku bangun kembali
A D G D
Setelah tidur yang panjang
A D G
Tanpa pernah kusadari
D G
Ingin bernyanyi
A D G D G
Untuk apa saja yang pernah terjadi dikota ini
D G
Oh ya di kota ini
D G
Hm di kota ini
D G
Ku panggil Yogyakarta
A D G
Malam semakin sunyi
A D G
Jalan semakin sepi
A D G
Malam semakin dingin
A G
Oh di kota ini
A D G
Masih ada jejakku





[...] http://rinangxu.wordpress.com/2007/03/05/iwan-fals-lirik/ [...]
Lagu Relevan buat Pejabat Penyanyi « Garis bawah dibahas juga di dalam 02 Juli 2008 pada 3:32 am
sip…
awik1212 dibahas juga di dalam 05 Juli 2008 pada 6:13 am
minta tab nya ambulance zig zag dong, buat nambah ilmu, makasih
oka dibahas juga di dalam 07 September 2008 pada 7:38 pm
Mnt kord & mp3 sais pedati da ga bwt kleksi
Arifin dibahas juga di dalam 31 Desember 2008 pada 10:48 am
Saya menyarankan supaya abang/Bapak membuat album baru lagi
Arnel dibahas juga di dalam 21 April 2009 pada 3:01 am
saya maunya sekarang bang
Arnel dibahas juga di dalam 21 April 2009 pada 3:04 am
makasih banyak mas..
abi dibahas juga di dalam 07 Juli 2009 pada 12:06 am