Dilema Simalakama

samuraiWaktu terus berlalu kian hari semakin membikin penat. Dimana-mana ada peristiwa yang di rekam waktu. Tiap detak berdesing terpacu tantangan. Akan kemana langkah diri. Media terus saja bawa kabar, tentang resah, tentang gelisah, marah, janji, tamak, iri dan seabrek lagi berita yang diusung dan disajikan. “penonton, penikmat, pecandu, pemamah media mulai ada ketergantungan”. Hidup terikat seperangkat aturan, teori, struktur, birokrasi yang lebih banyak merepotkan dan mengesalkan. Untuk melepas semua dirasa tidak mungkin???. Perang syaraf antar media yang memberitakan kejadian disana sini selalu saja sama ending storynya tetap pada RATING yang menjanjikan kaum pemodal. Media dijadikan alat untuk kampanye ide capital. Mungkin aku salah satu yang dikutuk tuhan sampai-sampai tergantung pada berita media (khususnya informasi). Internet yang selama ini aku anggap sebagai media paling bebas, demokratis sekaligus interaktif tetep aja bawa dampak buruk. Banyak orang (termasuk saya) menjadi “budak” teknologi internet, candu baru bagi kaum modern (mungkin). Seolah dunia ini sudah sesak dan pengap sampai sulit mencari ruang sekedar untuk bersandar melepas lelah. Sampai saat ini media yang mampu menampung semua uneg-uneg cuma di internet. Internet semacam tempat pelarian bagi kaum marginal yang sedikit tahu teknologi. Banyaknya fasilitas yang diberikan, menjadikan netter seperti di surga sekaligus sebagai “raja” yang segala keinginannya akan dituruti. Dari isu yang sempat berhembus kencang orang dikatakan gaptek, kuper, kalau nga’ tau computer??? , realitas berkata lain, banyak tempat yang aku kunjungi masih bejibun orang yang nga’ bisa ngoperasiin komputer. Teknologi ini meroket melesat seperti peluru yang hanya meninggalkan bayang dibelakang. Sedikit saja nga ngikuti perkembangan; akan tertinggal jauh…………… new apocalypse. manusia sudah dipandang miring dengan memposisikan komputer sedemikian rupa, sampai pada titik ekstremnya menelanjangi sang creator (created to be creator).

Internet yang menjanjikan sejuta hal tidak luput dari jejaring kapitalis. Harga software hardware sebagai perangkat pendukung dipatok make dolar amerika. Dolar oleh sebagian golongan dikatakan lambang/simbol kapitalis, terus diburu kaum pemodal. Amerika banyak dibenci orang karena sepak terjangnya. Bill gates pendiri microsoft windows kaya raya gara-gara harga penjualan softwarenya laku keras dipasar dunia. Tandingan windows yang paling “militan” dengan slogan open source masih sulit diterima. sementara para penguna computer selalu saja dijadikan target market potensial. User yang sudah punya computer ‘dipaksa” untuk beli produk-produk baru para vendor hardware dan software; kalau membangkang tanggung sendiri akibatnya. Microsoft windows sudah ancang-ancang launcing program barunya dengan title windows vista. Mungkin itu tidak masalah kalau nga diikuti hilangnya software familiar bagi computer lama, tapi kaum kapitalis benar-benar cerdik dengan menkondisikan pasar supaya semua “butuh” dan harus beli! Kalu tidak ya tahu sendiri……. Computer lama anda akan menjadi zombie gentayangan mencari pasangan software yang masih mampu “dia” lakukan. Pengen beralih ke open source bingung cara memakainya, mau beli yang berlisensi selalu saja kurang dana, mau mbajak dikatakan melanggar hukum dan haram menurut agama. Lagi-lagi orang harus resist menghadapi itu semua…

~ oleh rinangxu pada 04 Desember 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: