Paradoks Penjual Makanan

“Ma….nusia sama saja dengan binatang

Sama-sama cari makan……………………,

Sentil kiri kanan mengambil jatah orang…”

Potongan lirik lagu iwan fals itu mengingatkan pada satu aktifitas yang wajib dijalani makhluk hidup. Bagaimanapun melawan untuk tidak makan/mencari makanan adalah sesuatu yang sulit. Ada beberapa pengecualian tentang hal itu, tapi prosentase perbandingannya sangat kecil 1:1.000.000., (hasil survey bebas konpirasi ala kadarnya). Apakah memang diperlukan aktifitas mencari makanan untuk dimakan?. Nenek moyang manusia yang berpindah-pindah dalam mencari makanan. Pada masa pra sejarah manusia menggunakan “alat” seadanya, kayu, batu, segala macam yang mereka temui. Dari saking purbanya manusia pada saat itu juga menggunakan ketrampilan minimnya dalam memaksimalkan barang-barang yang mereka temui untuk kemudian dijadikan sarana pendukung hidup. Zaman tersebut masih terbagi lagi manjadi beberapa tahap:

Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman batu ini dapat dibagi lagi atas:

Zaman batu tua (palaeolithicum)

Zaman batu tua (palaeolithicum), Disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya periode ini disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Pendukung kebudayaan ini adalah homo erectus yang terdiri pithecanthropus dan homo.

Zaman batu tengah (mesolithicum)

Pada Zaman batu tengah (mesolithicum), Alat-alat batu zaman ini sebagian sudah dihaluskan terutama bagian yang dipergunakan. Tembikar juga sudah dikenal. Periode ini juga disebut masa berburu dan meramu makanan tingkat lanjut. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens (manusia sekarang), yaitu ras Austromelanosoide (mayoritas) dan Mongoloide (minoritas).

Zaman batu baru (Neolithicum)

Alat-alat batu buatan manusia Zaman batu baru (Neolithicum) sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Di samping tembikar tenun dan batik juga sudah dikenal. Periode ini disebut masa bercocok tanam. Pendukung kebudayaan ini adalah homo sapiens dengan ras Mongoloide (mayoritas) dan ras Austromelanosoide (minoritas).

Zaman Logam

Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkannya. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut acire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam ini dibagi atas:

Zaman tembaga

Orang menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal di beberapa bagian dunia saja. Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) tidak dikenal istilah zaman tembaga.

Zaman perunggu

Pada zaman ini orang sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.

Zaman besi

Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500°C. I Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman sejarah.

Antara zaman neolithicum dan zaman logam telah berkembang kebudayaan megalithicum, yaitu kebudayaan yang mengunakan media batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalithicum justru pada zaman logam.

Dari pernak-pernik tentang fase zaman itu. Manusia tetap satu; pada aktifitas pencarian alat muthahir untuk mendukung mereka yaitu mencari makan. Perkembangan mereka dimulai dari masa berburu kemudian bercocok tanam secara berpindah-pindah dan kemudian terjadi revolusi industri (Istilah revolusi industri diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19) dengan ditandai penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja menjadi industri dan diproduksi mesin. Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan mesin uap (menggunakan batu bara sebagai bahan bakar) dan ditenagai oleh mesin (terutama dalam produksi tekstil). Perkembangan peralatan mesin logam-keseluruhan pada dua dekade pertama dari abad ke-19 membuat produk mesin produksi untuk digunakan di industri lainnya.

Makanan diyakini salah satu sumber tenaga makhluk hidup ternyata dalam banyak sisi mempunyai sejarah panjang yang menyertainya. Makanan sudah dijadikan suatu kewajiban kehidupan untuk keberlangsungan hidup. Berangkat dari kesederhanaan pencukupan kebutuhan individu menjadi sarana pembantaian massal dalam sistem ekonomi global. Sistem kapitalis yang mengiringi revolusi industri menawarkan terobosan-terobosan baru dalam pencarian pasar. Sebuah sistem yang membelenggu dan menjadi dilema publik. Penumpukan modal, monopoli pasar, membawa kesenjangan sosial yang semakin jauh dari harapan hidup banyak orang “untuk sekedar mencari makan”. Semuanya terbingkai menjadi kesatuan yang terkoordinir rapi dan menebarkan jejaring di seantero jagad. Seorang pedagang makanan menjajakan barang dagangannya untuk mendapat uang. Dan ketika ditanya untuk apa uang? Ya… buat makan/buat beli makanan (alasan yang paling banyak ditemui adalah untuk makan). Satu ironi menyedihkan tak terelakkan, menjual makanan untuk makan !. Pemain valas garuk-garuk kepala ketika indeks sahamnya anjlok, kurs mata uang yang dia punya turun sekian persen; kepalanya pening karena mata uang yang dimilikinya tak lagi punya taring dengan mata uang lainnya; lagi-lagi mereka menjual uang untuk mencari uang !. Sandang, papan, pangan slogan yang sering terdengar. Rentengan kata tersebut semacam takaran untuk mengetahui tingkat kesejahteraan. Untuk menjadikan tiga suku kata itu melahirkan makna yang dikandungnya ternyata susah. Mungkinkah itu sutu idiom ”trilogi kalam Tuhan yang harus terpecahkan”? Seperti harta, tahta wanita? Teori rantai makanan memberikan posisi yang terkuatlah yang menang. Top rangking dari rantai makanan selalu diduduki oleh kekuatan terbesar dari lingkungan ekosistem makhluk hidup. Seleksi alam yang ketat memberikan hadiah dan menempatkan posisi makhluk berkekuatan lebih dari lainnya pada peringkat tertinggi, hukum alam yang mengerikan. Harimau, binatang yang menduduki peringkat teratas dalam rantai makanan di darat ditakuti oleh gerombolan serigala yang sedang menikmati hasil buruan mereka. Para serigala tersebut langsung memberikan tempat pada sang “raja” untuk memberikan jatah mereka (mungkin pajak wilayah/zakat penghasilan ala binatang). Fenomena unik tersebut berakhir pada kemenangan harimau yang hanya datang trus dapat makanan, dari mana harimau punya kekuatan seperti itu? Sudah adilkah nature of law tersebut/memang harus demikian adaNYA?!…..

~ oleh rinangxu pada 13 Desember 2006.

Satu Tanggapan to “Paradoks Penjual Makanan”

  1. mengapa zaman tembaga tidask dokenal di indonesia? nohon balasannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: