Cerita Kebebasan

Lari dari kebebasan judul buku lama yang udah diterjemahkan dari Erich Fromm (Escape From Freedom). Mengupas tentang kebebasan; sang penulis meneliti bahwa manusia modern merindukan saat yang indah untuk mengulanginya kembali. Kebebasan menjadi pokok dan nilai terpenting dari individu yang harus dimiliki. Keinginan tersebut semakin menjadi-jadi ketika hasrat terpendam manusia mentok pada rutinitas keseharian yang menyebalkan. Erich mencermati bahwa proses pencarian kebebasan memberi alur tersendiri yang menggiring sang pencari pada wilayah asing dan membentuk keterasingan bagi petualang kebebasan. Alhasil sang pencari harus meringkuk sendiri dalam kebebasannya!. Realitas ini yang menurut Erich dikatakan sebagai dasar untuk lari dari kebebasan yang selama ini mereka inginkan. Kontradiksi kebebasan berlanjut tatkala manusia yang sedang berlari harus sendiri dalam kebebasannya. Kebebasan sebagai cermin keadaan yang harus semestinya menjelma menjadi monster mengerikan yang bernama “kesepian dan kesendirian”. Seperti Marx yang mengatakan keterasingan manusia dalam menjalani hidupnya adalah ketika manusia harus ter-aleniasi dari lingkungan sosial sebab terhentinya aktifitas gerak atau nganggur ( ‘Akumulasi! Akumulasi! itu adalah nabi-nabi baginya’ ; semua habis! Tinggal tenaga yang ada [red]  lebih jauh marx mengatakan dari keterasingan tersebut manusia membayangkan keindahan sensasional yang sulit didapatkan. Manusia lari pada agama yang memberikan cerita-cerita bergengsi tentang hadiah secara personal, ketika amalan kewajiban yang diberikan dijalankan. Janji penerimaan tersebut walaupun berada pada ruang imaji namun menjadi pancingan dasyat untuk mengikuti. Kebebasan lahir dari tekanan berbagai faktor di luar manusia yang menjadikan ketidaknyamanan dalam hidup. Semakin derasnya “serangan” yang tidak nyaman untuk dirasakan tersebut membuat pemberontakan kecil untuk lari dari keadaan yang lebih baik, nah proses inilah yang dinamakan mencari kebebasan. Ternyata asal-muasal Kebebasan sendiri dari Kebebasan yang terbelenggu trus lari mencari kebebasan dan setelah ditemukan lari lagi dari Kebebasan. Saya sendiri tidak setuju dengan Erich yang mengatakan setelah menemukan kebebasan manusia trus lari lagi. Saya kira si Erich baru menemukan kebebasan yang masih bersifat temporer/sesaat. Kebebasan absolut masih belum dijumpai sehingga pencari harus lari lagi untuk mencari karena belum menemukan/belum ada kesesuaian dari yang diinginkan (nga matching lah….). kebebasan si Erich masih berada pada “halte kebebasan” yang mempunyai syarat dan kriteria mirip Kebebasan. Dari adanya penggolongan sifat kebebasan dan kriteria pendukung  kebebasan; kebebasan ala Erich masih jauh dari kebebasan absolut. Kebebasan menjadi satu rasa ketentraman dan kenyamanan dalam merasakan semua hal di luar diri makhluk hidup. Jadi alangkah hebatnya seorang yang terasing tapi merasa bebas dalam keterasingannya. Rasa tersebut sudah berada di luar batas dan ukuran semestinya, hal tersebut terkesan individualistik! Dan yang lebih gawat lagi ditemukan kontradiksi “bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan sendang gurau dari makhluk lainnya; butuh interaksi, komunikasi dan berbagai hal menyangkut sifat-sifat kemanusiaan”. Banyak orang yang dapat menemukan satu hal bagus ketika proses keterasingannya (lain ladang lain belalang, lain-lain pula cara orang dalam menyongsong keterasingan). Dari keterasingan itu tumbuh kepekaan yang mampu menangkap semua bentuk kehalusan yang selama ini tidak terasa. Justru dalam keterasingan tersebut banyak yang produktif dan menghasilkan sesuatu yang bisa dinikmati dirinya maupun orang lain. Penatnya kehidupan modern ditangkap oleh Eco (preman semiotika saat ini) dengan mengatakan bahwa manusia modern sedang mengalami sense of dejavu , dimana-mana timbul keseragaman yang “menjiplak” abad sebelumnya. Bangunan modern sekarang cenderung kembali pada selera abad klasik, fashion mulai membuat dan memproduksi gaya-gaya model kuno dengan ketatnya pakaian pembungkus badan (mungkin maksud Eco biar terlihat sexy, masih banyak contoh lainnya, silahkan cari sendiri ok! ) , orang-orang banyak tukar-menukar informasi (barter) transaksi feodal jaman bahuelaaaaaaaaa………

Aliran selera purba mewabah menjamah jagad dengan berbagai rupa dan perwujudannya. Masyarakat mulai beralih “ada” sekarang pada “ada” sebelumnya. Ngeri sekaligus menggemaskan bukan????

sekian cerita tentang kebebasan ala kadarnya

 

~ oleh rinangxu pada 19 Desember 2006.

Satu Tanggapan to “Cerita Kebebasan”

  1. kebebasan itu kadang seperti hantu yang menakutkan. ketika didapat, terasing kita dibuatnya. yang mengasyikkan justru perjuangan mendapat kebebasan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: