Sahadat Vs Sahadat

Ngeri…. Yang terbayang pertama kali….ketika melihat video eksekusi Saddam. Hukuman mati ternyata mampu mematikan rasa bagi sebagian orang. Buktinya saddam harus menerima perlakuan yang kurang semestinya. Dengan sedikit umpatan dia diantar pergi. Presiden yang dikenal diktator dan sangat dibenci oleh Amerika (sampai turun-temurun musuh bebuyutan Bush Family) dalam detik-detik kematiannya mengeluarkan kata sakral SAHADAT. Mungkin sensor motorik otaknya membangunkan sisi religius untuk berucap sahadat, sesuai dengan kepercayaannya. Sahadat adalah satu kepasrahan total atas pengertian dan pemahamannya pada ajaran samawi (Islam). Persetujuan terhadap bentuk kesaksian tersebut menjadi kunci untuk membuka pintu gerbang ajaran Tuhan. Dalam dunia Islam Adam harus bersahadat ria sebelum bisa menyentuh Hawa (teman baru yang tercipta atas anugrah-Nya yang tahu makhluk baru ciptaannya merasa kesepian). Dinding surga bertuliskan sahadat! Adam bertanya siapa Muhammad sampai harus mengagungkannya. Namanya tertulis di pintu surga dan terangkai dalam sahadat. Sebelum mati Saddam baca sahadat, para eksekutor baca sahadat, jadilah tiga puluh desember dua ribu enam masehi menjadi fenomena tersendiri. Beriring gema takbir hari raya ada proses eksekusi yang juga beriring takbir dan sahadat. Sahadat di Masjid-masjid diucapkan mengawali penyembelihan hewan kurban yang disyariatkan sebagai pengganti Ismail beberapa abad yang lalu. Sementara sahadat tiga puluh desember dua ribu enam masehi menjadi iringan nyata kurban manusia beserta kurbannya yang bisa berucap 100,90%. Ucapan pertama lancar 100% yang kedua keburu mati jadinya cuman 90%; “sayang” kata Muhammad lolos dari mulut kurban yang keburu hilang pada pengucapan kedua (hanya sempet 90% red). Padahal kata yang terpenggal sangat penting untuk kesempurnaan sebuah sahadat. Proses kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan penerimaan Muhammad utusan Allah adalah satu paket yang tidak bisa terpisahkan. Tiada Tuhan Selain Allah Dan Muhammad……… GRAK…. Hilang sudah. Lalu bagaimana Sahadat Saddam yang kedua??? ironisnya lagi pihak eksekutor berkali-kali bershalawat Nabi (pada penggal ini korban tidak dapat menyelesaikannya; kemungkinan korban sangat berharap untuk bisa berucap bebas seperti eksekutor) Posisi “sahadat minoritas” dan “sahadat mayoritas” menjadi dimensi berwajah ganda dalam peristiwa tersebut. Minoritas yang terwakili calon korban dan mayoritas yang diwakili eksekutor bartarung dalam suasana Agung hari raya kurban. Kedua “kubu” sama-sama mengagungkan nama Tuhan mereka. Mereka lupa pada titik itu bisa bertemu bersatu bersahadat bersama….setelahnya sudah menjadi urusan dunia….. mereka sibuk dengan yel-yel “kubu kelompoknya”. Sorak-sorai musuh-musuh Saddam langsung menggema begitu prosesi eksekusi sudah terlaksana dan diketahui masyarakat luas. Bisa dikatakan kalau gemuruh riang dan tarian kemenangan menjadi simbol ritual perbedaan saudara seagama, serumpun, se-ras, sebangsa tapi beda arah (“sahadat saudara berbeda dengan sahadat kita! karena saudara beda guru dengan kita” red). Sungguh diluar dugaan melihat semua kejadian itu.

“orang bicara cinta

Atas nama tuhannya

Sambil membunuh….

Mencaci

Menghasut

berdasarkan keyakinan me……….re……ka”

 

Sebait lirik lagu dari teman-teman iwan fals.

Semua penentang ketidakadilan adalah temanku (Che Guevara)

 

If You Judge people, You have no time to love them (Mother Teresa)

Inpired by

BBC Indonesia & Me in Kebuntuan konstitusi

Download Video  

 

 

~ oleh rinangxu pada 09 Januari 2007.

Satu Tanggapan to “Sahadat Vs Sahadat”

  1. kita ingat dan takut saat ajal khan menjemput.
    itulah sifat manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: