Citra Piala Citra

Beberapa hari yang lalu ada peristiwa yang cukup langka; ya…… Deretan artis berjejer cukup rapi datang menemui menteri pariwisata untuk memberikan simbol penghargaan hasil kerja karya cipta. Pekerja seni atau yang sok nyeni itu pada mengadu sama “ortu” dengan sedikit marah karena salah satu film yang menurut pandangan mereka bersama dianggap tidak layak untuk menang diajang bergengsi FFI malah dimenangkan dan mendapat penghargaan. Waduh.. waduh semua kok pada gonjang ganjing. Industri perfilman Indonesia yang baru saja back from the death sudah ditempa “cobaan”. Prosesi serah terima kembali (piala citra) berlangsung aman, damai dan penuh ratap harap dan sedikit bumbu marah sekaligus kecewa atas kinerja team juri yang memenangkan film ekskul. Piala Citra merupakan idaman bagi para pekerja seni peran dan sinematografi. Dengan mendapatkan piala citra seorang aktris ataupun aktor sudah bisa dinilai (hipotesis awal), minimal ditasbihkan bahwa dia adalah yang terbaik untuk festifal yang diadakan saat itu. Disini kelihatan bahwa simbol penghargaan tingkat tinggi tersebut masih mempunyai sifat temporer dan sesaat; datang kemudian hilang dan tergantikan diajang festifal selanjutnya. Citra dalam beberapa kamus populer diartikan sebagai sesuatu yang tampak oleh indera, akan tetapi tidak memiliki eksistensi substansial. Sedangkan piala adalah simbol penghargaan terkait dengan kualitas. Dalam sebuah perlombaan kerap kali ada istilah piala satu, dua, tiga dan seterusnya. Citra hanyalah tawaran image untuk diberikan pada tanda. Tanda disini adalah para pekerja seni itu sendiri. Citra akan diburu untuk mendapatkan penguatan tanda pada diri artis. Penguatan tersebut mampu menghasilkan daya ekonomis, magis, dan sebagainya. Dengan tempelan citra seorang artis akan dengan mudah memberi makna pada penanda supaya mau mengeluarkan unsur-unsur yang terpendam padanya. Ambil contoh artis A adalah seorang yang sudah terkenal dengan sebuah produk yang dibintanginya ex obat panu. Maka dengan sendirinya penanda/obat panu tersebut akan mengalami penguatan petanda (makna); orang akan terasuki citra si A yang merasuk pada produk iklannya sehingga membuat aksioma (kebenaran tanpa ujian) bahwa obat panu yang diiklankan dan dibintangi si A sangat mujarab (sekali oles langsung lenyap tu’ panu, dasyat….!!! buktinya dia yang kaya, cantik atau ganteng juga pake.) nah dari cerita citra tersebut bisa ditemukan bahwa “tekhnologi citra” dalam contoh iklan tersebut terkandung konsep, gagasan, tema ataupun ide-ide yang dikemas dan ditanamkan pada sebuah produk untuk dijadikan memori publik, semacam keyword magic menyenangkan yang selalu teringat dalam rangka mengendalikan publik. Citra dijadikan instrumen penting dalam sebuah produk saking kuatnya dampak citra, publik bisa terkontrol dengan memilih pencitraan terlebih dahulu sebagai landasan rasional untuk pilihannyaketimbang berpikir logtis tentang kebutuhannya (tanda-tanda konsumerisme). “hari gini nga’ punya…” satu kutipan keymagic iklan yang terus bergaung bahkan dijadikan idiom olok-olok sesama orang ketika salah satu person tertinggal dalam trend saat ini (kurang gaul). Citra mampu mengontrol relasi sosial masyarakat bahkan mampu masuk dalam alam bawah sadar mereka dan mengendap menjadi silabi (referensi) yang tak terpahami tapi menjadi tradisi dan kebiasaan dalam menentukan dan menjelaskan artifisial sosial. Apakah “virus ini juga menjangkiti para juri FFI 2006? Silahkan teman-teman mencari sendiri….Para juri dalam FFI terkena citra dari artis yang membintangi film kontroversial; ataukah memang film yang menang itu sudah layak dan absah sesuai dengan prasarat, kriteria festifal??? (masih tanda tanya). Citra yang terbangun selama ini sudah menjadi prestise gaya hidup palsu. Sebuah citra masa depan berada pada ambang batas sesat. Sebuah citra mampu mengendalikan masyarakat, membangun imajinasi-imajinasi aktif yang sebenarnya, sama sekali tidak bersentuhan dengan realitas, tidak mengena dan berkaitan dengan penanda/produk yang dicitrakan. Citra mengarahkan “target” untuk butuh dan “wajib” menggunakan untuk seterusnya menjadi pelanggan setia yang kecanduan produk-produk tertentu. Hasil dari semua itu adalah keuntungan kapital, kaum pemilik modal yang menggunakan jasa tanda (artis) sebagai wujud penguatan penanda (produk) hasil rekayasa citra yang dicitrakan padanya / memang citra sudah menempel pada diri artis. Disini terlihat hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan antar keduanya. Si artis semakin keren dan beken serta dapat tambahan penghasilan dan produsen / produser semakin kaya karena barang dagangannya laku dijual dan mendapat animo tinggi masyarakat. SKAK MAT kata yang cukup pas untuk menggambarkan itu semua. Lagi-lagi para konsumen yang harus kalah.

~ oleh rinangxu pada 10 Januari 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: