Nilai Harga

Seringkali ketika berjalan di pusat-pusat perbelanjaan kita banyak menangkap fenomena yang kadang luput dari pemikiran sebelumnya. Dalam sebuah etalase toko terdapat banyak sekali tawaran barang yang dijajakan penjual. Bagi yang suka shooping dan ada duit satu hal menggembirakan ketika melihat satu barang bagus; dengan sedikit naif atau mungkin gagah berani mencoba menawar. Hasil dari percakapan verbal formal antara penjual dan calon pembeli tersebut melahirkan sebuah nilai baru yang saling diperebutkan! HARGA, perwakilan nilai yang mengandung keangkuhan tersendiri. Harga menjadi subyek sekaligus obyek transenden. Seolah dengan harga, segala hal yang masuk terkurung dalam tembok kuat kekuasaannya. Harga menyimpang pada distorsi isi barang yang diwakilinya. Harga sudah dijadikan acuan pokok dalam menaksir kwalitas barang! jurus inipun digunakan pedagang sebagai senjata mematikan menaklukkan calon pembeli. Dengan berbagai informasi menyangkut barang dagangan, sang penjual mempromosikan semua hal tentang barang tersebut. Berbekal pada payung harga,  penjual mendeskripsikan sistem dari terbangunnya sebuah harga dengan tingkat percaya diri tinggi. Barang dagangan menjadi korban harga!. Ya sepertinya demikian….. dagangan adalah wayang, sedang dalang adalah harga, produsernya adalah penjual.   Kepasrahan pada label harga yang tertera pada barang secara tidak langsung menyudutkan calon pembeli pada pilihan tidak mengenakkan dan terlampau sulit terelakkan. Budaya konsumerisme yang jadi trend kehidupan modern melupakan arti penting sebuah harga. Sebagian orang tidak terlalu pusing tentang harga yang tertera “suka langsung bayar” lain halnya sebagian lagi mereka akan berpikir serius sampai mumeeeeeeeeeet ber-negosiasi dengan penjual yang ternyata alot dalam menurunkan harga. Kesulitanpun mendadak muncul dari entah arah berantah! Kewaspadaan masyarakat yang pas-pasan dalam menghadapi harga memberi komando otomatis pada pihak lain untuk mengikutinya (menawar sampai mbeeeek….) sebagian lagi ada yang NEKAT; mereka “mencuri” sesuatu yang baginya terlalu berharga untuk ditinggal tapi di satu sisi terlau mahal untuknya (tak tersentuh, angkuh menjulang setinggi langit) sementara yang dirasakan adalah barang itu haknya yang hilang dan baru ditemukan. Satu kenekatan dengan bangunan pemikiran purba! Menganggap semua hal di semesta adalah milik bersama untuk dibagi bukan diperebutkan; mulai kapan ada hak kepemilikan? Semua ini milik “kami” (kami yang diterjemahkan sebagai semua bukan golongan, semua mencakup kita, dia dan aku) ciri khas dari sifat pribumi. Pribumi sendiri diartikan sebagai yang pertama ada disitu. Tulisan terkait tentang kepemilikan…           

~ oleh rinangxu pada 10 Januari 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: